Jakarta, Mediautama.news – Semenanjung Iberia memasuki status siaga tinggi akibat ancaman Badai Leonardo yang melanda kawasan tersebut sejak Selasa (3/2/2025). Spanyol menutup sekolah-sekolah di wilayah selatan, sementara Portugal mengeluarkan peringatan baru setelah cuaca ekstrem pekan lalu menewaskan lima orang.
Badan meteorologi Spanyol (AEMET) mengeluarkan peringatan merah tertinggi untuk wilayah Ronda dan Grazalema di Andalusia selatan pada Rabu. Otoritas memperingatkan badai ini membawa ‘bahaya luar biasa’ dengan risiko banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah titik rawan.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, pemimpin pemerintah daerah Andalusia, Juanma Moreno, meminta masyarakat untuk tetap waspada.
Kepada penduduk, dikutip AFP dan dilansir dari CNBC Indonesia, Moreno meminta agar penduduk mengedepankan kehati-hatian maksimal dan menggunakan akal sehat dalam menghadapi situasi ini.
Untuk mengantisipasi, personel militer telah dikerahkan ke wilayah tersebut untuk membantu layanan penyelamatan. Selain itu, seluruh sekolah di Andalusia akan ditutup pada hari Rabu, kecuali di provinsi paling timur, Almeria.
Di negara tetangga, Portugal, badan cuaca IPMA menetapkan status siaga oranye untuk seluruh wilayah pesisir pada hari Selasa saat Badai Leonardo mendekat dari Samudra Atlantik. Wilayah utara dan tengah Portugal juga berada dalam pengawasan ketat akibat perkiraan hujan salju lebat, angin kencang, dan curah hujan tinggi yang diprediksi akan berlangsung hingga hari Sabtu.
Rentetan badai memang telah menghantam Portugal dalam beberapa pekan terakhir. Badai Kristin pekan lalu menyebabkan lima orang tewas dan sekitar 400 lainnya luka-luka, dengan dampak terparah di wilayah Leiria. Tiga korban tewas dilaporkan jatuh saat melakukan perbaikan atap, sementara korban keempat meninggal akibat keracunan karbon monoksida dari generator listrik.
Pemerintah Portugal saat ini telah menyetujui rencana rekonstruksi senilai 2,5 miliar euro atau setara Rp 42 triliun, mengingat puluhan ribu rumah masih terputus dari jaringan listrik. Para ilmuwan menekankan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia membuat peristiwa cuaca ekstrem seperti badai dan gelombang panas menjadi lebih lama, lebih sering, dan lebih intens.
Kondisi ini memicu trauma mendalam bagi warga Spanyol. Sebelumnya pada Oktober 2024, Spanyol menderita banjir paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir dengan lebih dari 230 orang tewas, yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah timur Valencia.(r)
Editor: AR Manik Raja






