Kenapa Warga Jepang Panjang Umur? Ini Kebiasaan yang Mereka Jalani

Jakarta, Mediautama.news – Jepang konsisten menjadi salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia.

Berdasarkan laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, jumlah warga yang berusia 100 tahun atau lebih kini mencapai 107.677 orang. Angka ini mengalami peningkatan signifikan, yaitu bertambah sebanyak 7.914 orang dibandingkan data tahun 2025.

Pertumbuhan jumlah lansia berusia seabad ini terjadi secara berkelanjutan selama puluhan tahun. Pada tahun 1963, tercatat hanya ada 153 orang yang berusia 100 tahun ke atas. Angka tersebut terus naik dan untuk pertama kalinya menembus angka 50.000 orang pada tahun 2012, dan kini telah melampaui 100 ribu orang.

Dikutip dari CNBC Indonesia, dari total warga berusia 100 tahun ke atas tersebut, sebagian besar adalah perempuan, yaitu sebanyak 94.298 orang atau setara dengan 87,6 persen. Sementara itu, laki-laki mencapai 13.379 orang atau sekitar 12,4 persen.

Banyak faktor yang mendasari tingginya angka harapan hidup masyarakat Jepang. Secara medis, hal ini dikaitkan dengan rendahnya tingkat penyakit jantung iskemik serta beberapa jenis kanker, ditambah angka obesitas yang sangat rendah di negara tersebut.

Salah satu faktor utama yang paling sering disorot adalah pola makan. Masyarakat Jepang dikenal dengan kebiasaan mengonsumsi makanan utuh, biji-bijian, aneka sayuran, ikan, rumput laut, serta kedelai dan berbagai produk olahannya. Teh hijau dan makanan fermentasi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari menu harian mereka.

Sebaliknya, konsumsi susu dan produk hewani cenderung dijaga pada porsi yang lebih sedikit. Pola makan seimbang ini diyakini berperan penting dalam menunda penuaan biologis dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Namun, bukan hanya soal makanan. Gaya hidup aktif juga menjadi kunci utama. Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar separuh penduduk Jepang berusia 50 tahun ke atas rutin berjalan kaki minimal 30 menit setiap hari. Bahkan, 17,5 persen di antaranya berjalan kaki selama satu jam atau lebih setiap harinya. Kebiasaan sederhana ini ternyata berdampak besar bagi kesehatan jantung dan kebugaran tubuh jangka panjang.

Selain itu, kualitas hubungan sosial juga berperan sangat penting. Para ahli menekankan bahwa kesepian dan isolasi sosial pada kelompok lanjut usia dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius, termasuk penyakit jantung, stroke, hingga gangguan saraf. Di Jepang, ikatan antarwarga dan peran lansia dalam masyarakat tetap terjaga dengan baik, sehingga mereka tidak merasa terisolasi.

Kesimpulannya, umur panjang yang dinikmati masyarakat Jepang bukanlah hasil dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi harmonis dari pola makan bergizi seimbang, kebiasaan bergerak yang aktif, serta dukungan sosial yang kuat sepanjang hayat.(r)

Editor: Edward